Friday, October 26, 2012

YESUS-PUN MENETESKAN AIRMATA

Andoy.. Seorang anak berumur 9 tahun.. Dari keluarga miskin.. Selalu mengucap SYUKUR.. Dalam SEGALA keadaan apapun..! Ia tinggal di suatu desa terpencil di Pilipina..! Setiap hari.. Untuk sampai ke sekolahnya.. Ia harus menempuh jalan yang panjang.. Berjalan kaki melintasi jalan berbatu.. Menyeberang jalan raya yang berbahaya.. Penuh kendaraan melaju dengan kencang..! Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya itu.. Andoy selalu mampir sebentar ke gereja untuk berdoa..! Kegiatannya itu.. Diamati oleh Pastor Agaton.. Karena merasa terharu.. Dengan sikap Andoy yang polos dan beriman TEGUH..! Suatu hari.. Ketika Andoy hendak memasuki gereja.. Pastor Agaton menyapanya.. "Selamat pagi Andoy.. Apa kabarmu..? Apakah kamu akan ke sekolah..?" "Selamat pagi Pastor.. Saya baik-baik selalu.. Iyaa ini mau ke sekolah, Pastor..!" Jawab Andoy dengan tersenyum..! "Mulai hari ini saya akan membantumu.. Dan menemanimu menyeberangi jalan raya itu.. Setiap kali kamu akan menyeberang.. Bagaimana, setujuuu..?" "Dengan senang hati, Pastor.. Terimakasih, Pastor.." Jawab Andoy dengan senang sekali..! "Sekarang apa yang akan kamu lakukan..?" "Saya hanya ingin menyapa TUHAN YESUS, SAHABAT-ku..!"Jelas Andoy..! Lalu Pastor Agaton meninggalkan Andoy.. Untuk Andoy melewatkan waktunya bersama TUHAN..!

Keingintahuan Pastor Agaton untuk mendengar doa Andoy.. Membuat Pastor Agaton bersembunyi dibalik altar..! Mulailah Andoy berdoa.. "TUHAN, ENGKAU tahu.. Ujian matematikaku sangat buruk.. tetapi aku tidak mencontek seperti teman-teman yang lain..! Ayahku mengalami musim paceklik.. Dan yang bisa aku makan hanyalah kue ini.. Terimakasih buat kue ini, TUHAN..! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan.. Dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. Lucunya, aku tidak begitu lapar lagi..! Lihat ini.. Sepatuku yang terakhir.. Mungkin minggu depan aku harus berjalan kaki tanpa sepatu.. ENGKAU tahu, TUHAN.. Sepatu ini akan rusak.. Tapi tak mengapa.. Yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah..! TUHAN SAHABAT-ku, kata orang-orang.. Kami akan mengalami musim panen yang buruk bulan ini.. Karena itu beberapa temanku.. Sudah tidak bersekolah lagi.. Tolong bantu mereka, yaa TUHAN.. Agar mereka bisa sekolah lagi..! Ooh yaa, ENGKAU tahu kan.. Ibu memukulku lagi.. Sakit sekali.. Tetapi aku BERSYUKUR.. Karena masih memiliki ibu..! Dan rasa sakit ini pasti akan hilang.. Lihatkan lukaku ini, TUHAN..? Aku tahu ENGKAU mampu menyembuhkannya.. Disini bekas lukanya..! Tolong jangan marahi ibuku, yaa..! Memang dia sedang lelah.. Dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan.. Juga biaya sekolahku.. Itu mengapa ibu memukulku..! TUHAN.. Aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini.. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku.. Menurut-MU.. Apakah dia akan menyukaiku..? Aah, bagaimanapun juga aku tahu.. Bahwa ENGKAU tetap menyukaiku.. Karena aku tidak perlu menjadi siapapun.. Untuk menyenangkan hati-MU.. ENGKAU adalah SAHABAT-ku..! Hei TUHAN TEMAN-ku.. Ulangtahun-MU tinggal dua hari lagi.. Apakah ENGKAU gembira..? Tunggu saja, aku punya hadiah untuk-MU.. Tapi ini kejutan.. Dan aku harap ENGKAU menyukainya..! Ooops, aku harus pergi ke sekolah.. Selamat pagi..!" Lalu Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pastor Agaton.. "Pastor.. Pastor Agaton.. Saya sudah selesai berbicara dengan SAHABAT-ku, TUHAN YESUS.. Sekarang Pastor bisa menemaniku menyeberang jalan..!" Kegiatan Andoy berlangsung setiap pagi.. Andoy tidak pernah absen sekalipun..! Pastor Agaton berbagi cerita ini.. Kepada umatnya di gereja setiap hari Minggu.. Karena dia belum pernah melihat.. Iman dan kepercayaan yang murni kepada ALLAH.. Dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi.. Seperti yang dimiliki Andoy..!

Wednesday, August 1, 2012

TUHAN, SEMBUHKAN AYAHKU

Alkisah Tentang Gadis kecil itu baru berusia 7 tahun, dan harus melewati siksaan dari ayah kandungnya sendiri sepanjang hidupnya.. 

“Pergi kau! Dasar anak bodoh! Aku tak pernah menginginkanmu lahir ke dunia ini! Karena kamu adalah pembunuh istriku!” Kata-kata kasar kerap keluar dari mulut seorang laki-laki yang sangat terhormat di kotanya. Laki-laki itu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat dibencinya. Gadis kecil itu baru berusia 7 tahun, dan harus melewati siksaan dari ayah kandungnya sendiri sepanjang hidupnya. “Ayah….” gadis kecil itu terisak di dalam gudang tanpa makanan selama 2 hari. Laki-laki itu sangat kaya dan juga terkenal sangat dermawan. Banyak orang yang menyanjung karena kebaikannya. Lelaki itu sangat terkenal dengan belas kasihannya terhadap orang lain. Tetapi lelaki itu bisa mendadak berubah menjadi singa saat bertemu dengan gadis kecilnya. 

*** Tujuh tahun yang lalu, lelaki itu dan istrinya sangat menanti-nantikan kelahiran sang buah hati mereka. Tetapi Tuhan berkata lain. Bayi mungil itu lahir dengan selamat, tetapi sang ibu hanrus berpulang kepada Sang Maha Pencipta. Lelaki itu sangat kecewa dengan kematian istrinya. Dia melampiaskan semua kebencian dan kearahannya terhadap gadis kecilnya. Tubuh gadis kecil itu harus menerima setiap tendangan dan cambukan dari ayahnya. Tidak banyak rintihan yang keluar dari bibir mungil gadis kecil itu, karena setiap kata yang keluar harus dia tukar dengan 100 cambukan. Setelah ayahnya merasa puas dengan siksaannya itu, gadis kecil itu pun berlari menuju ke loteng. Di loteng itulah gadis kecil mencurahkan semua isi hatinya. Tidak ada keluh kesah, tidak ada makian, yang adalah hanyalah sebuah ucapan syukur. “Tuhan, hari ini aku dipukul lagi oleh ayah. Terima kasih Tuhan, Kau masih memberiku kekuatan untuk menerima 100 cambukan hari ini. Tubuhku memang penuh luka Tuhan, tetapi hatiku tidak. Aku mau bersyukur terhadap apa yang aku alami hari ini. Aku bersyukur karena Engkau masih mengasihiku melalui Ayahku. Tadi pagi Ayah memberiku sepotong roti, aku sangat senang karena sudah 2 hari tidak makan.” Gais kecil itu menghapus air mata yang menetes di pipinya dan tersenyum sambil melanjutkan kalimatnya… “Tuhan, berkati Ayahku ya. Ampuni setiap dosa-dosanya. Saat Ayah memukulku, jangan Kau pukul Ayah juga. Aku sangat menyayangi Ayah, sama seperti Engkau menyayangiku.” 

*** “Maaf nona kecil, bisakah aku bertemu dengan orang yang lebih tua darimu di rumah ini?” tanya salah seorang petugas polisi. “Tidak ada orang lain lagi selain saya di rumah ini” jawab gadis kecil itu dengan polos. Polisi itu tampak ragu-ragu untuk menyampaikan kabar buruk kepada gadis kecil itu. “Kamu putrinya?” tanya polisi itu. “Iya benar, saya putrinya” jawab gadis kecil dengan tatapan penuh tanya. “Ayah nona sedang berada di rumah sakit. Tadi mobilnya mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis. Kemungkinan nyawanya tidak tertolong” ujar polisi itu. 

*** Lelaki kejam itu memang sedang kritis di rumah sakit. Dalam keadaan koma, dia bertemu dengan malaikat Tuhan. “Apakah saya akan tetap hidup?” tanya lelaki itu pada sang malaikat. “Aku datang ke sini untuk menjemputmu. Seharusnya kau sudah mati dan masuk neraka” jawab sang malaikat. “Saya tidak mau masuk neraka. Saya mau hidup. Tolonglah… Saya orang baik dan suka menolong. Saya sering menyumbang banyak panti asuhan” ujar lelaki itu. “Bagaimana dengan putrimu?” “Dia…” lelaki itu terdiam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya, “Dia telah membuat istriku meninggal.” “Apakah sudah benar tindakanmu?” “Ya, dia pantas mendapatkan semua siksaan itu.” “Apakah kamu tidak mengasihinya?” “Buat apa aku mengasihi dia?” “Bukankah putrimu itu pemberian Tuhan? Dan dia tidak berdosa karena kematian istrimu. Itu semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Istrimu sudah bahagia di sorga.” “Tapi…” “Benar kamu tidak mengasihinya?” “Iya!” Lelaki itu menjawab pertanyaan terakhir sang malaikat dengan mantab. “Baiklah. Karena kamu tidak mengasihi putrimu sendiri, lalu buat apa aku mengasihimu? Buat apa aku membiarkanmu hidup? Kamu harus menuai apa yang telah kamu tabur. Apa yang kau siksa di bumi, maka itu juga yang akan kau dapatkan di neraka.” “Aku mohon maafkan aku, jangan ambil nyawaku.” “Jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah kepada putrimu dan berterima kasihlah.” “Berterima kasih…?” “Iya. Berkat putrimu, kamu tidak jadi mati. Sepanjang malam dia berdoa untukmu. Dia takut untuk menemuimu karena kau telah melarangnya untuk keluar rumah. Saat ini dia sedang berdoa untukmu.” Malaikat itupn membawa roh lelaki itu menuju ke loteng rumahnya. Dia melihat gadis kecilnya sedang berlutut dan berdoa untuknya. “Tuhan Yesus, tolong sembuhkan Ayahku. Ayah sedang terbaring di rumah sakit melawan maut. Ampuni Ayah Tuhan, jangan siksa Ayahku. Aku rela berikan tubuh dan nyawaku untuk ditukar dengan Ayah. Hanya Kau Tuhan sumber segala kehidupan. Kau juga yang telah membuatku bertahan hidup sampai saat ini, dan aku percaya Kau juga yang akan membuat Ayahku untuk bertahan hidup. Aku percaya tiada yang mustahil bagi-Mu. Aku percaya Kau Yesus yang ajaib.” Laki-laki itu tak kuasa menahan tangis. Dia begitu menyesal dengan semua perbuatan yang telah dia lakukan terhadap gadis kecilnya. Dia merasa begitu berdosa dan tidak layak untuk hidup. Malaikat itu pun membawa roh lelaki itu dan mengembalikannya kepada tubuhnya. Ada keajaiban terjadi. Laki-laki itu telah melewati masa kritisnya. Dokter dan perawat melihat suatu pemandangan yang luar biasa. Jantung lelaki itu kembali berdetak setelah beberapa detik yang lalu dinyatakan meninggal. Air mata tampak menetes dari kedua mata lelaki itu. Mulutnya pun membisikkan sesuatu kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, terima kasih untuk anugrah-Mu yang luar biasa. Terima kasih untuk gadis kecilku. Aku akan mengasihinya dengan segenap hati dan jiwaku.”

Friday, July 20, 2012

Juruselamat Ajaib


Jumat, 17 April 1987, Debbie Williams dan beberapa temannya melompat keluar dari pesawat pada ketinggian 12.000 kaki ditengah langit cerah dekat Phonix, Arisona. Beberapa detik setelah terbang bebas, Derbbie membuka alatnya, satu tukikan tajam untuk menyusul empat temannyayang lain dibawah. Tetapi ia salah perhitungan sehingga menghempas penerjun lain. Tubrukan secepat 50 mil perjam itu membuat Derbbietak sadarkan diri. ia terpelanting, lemas seperti boneka kain. 

Derbbie meluncur kearah bumi dengan parasut yang tak terbuka dan tidak ada jalan untuk membukanya. Darah menutupi wajahnya, ia meluncur cepat melewati instrukturnya, Gregory Robertson. Segera Gregory memaksa tubuhnya terjun “ tanpa penahan, “ kepala dilipat ke dada, ujung kaki lurus, dan tangan sejajar disisinya. Dengan cepat ia terjun dengan kecepatan 180 mil per jam. Namun ketika ia melihat, Derbbie masih tampak jauh dari dirinya ia terus melaju, mencoba terjun lebih cepat dan lebih cepat. 

Tiba di horizon ia ia mengarahkan bahunya sedikit untuk mengarahkan laju turunnya kea rah wanita itu, melihat dunia seperti superman, Gregory mengulurkan tangan dan meraih tali cadangan Derbbie. Sambil menyentaknya dengan kuat, ia dengan cepat bergeser, parasutnya terbuka, dan Derbbie mulai melayang perlahan kea rah tanah. 

Pada ketinggian 2000 kaki, hanya 12 detik dari tubrukan dengan tanah, Gregory membuka parasutnya sendiri. Derbbie dan instrukturnya sama-sama selamat. Meskipun perlu waktu untuk pulih total dari cideranya, ia akan tetap bersyukur kepada Gregory yang secara ajaib merenggutnya dari hempasan mematikan. 

Seseorang telah merenggut kita dari kematian tertentu. Kita juga dengan cepat menukkik ke arah bencana ketika yesus menyelamatkan kita di Salib. Kutukan dosa menghukum kita kepada pada kematian kekal. Kita melaju menuju kematian, lautan api,kematian kedua, dan pembuangan kekal dari hadirat Allah, tetapi kemudian seorang juruselamat muncul.  

"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, juruslamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus". (Titus 3:4,5) 

Sumber: Buku renungan harian Tidak Tergoyahkan (Mark Finley)

Thursday, July 19, 2012

Iman Adalah memberanikan jiwa untuk melampaui apa yang dapat dilihat mata.

Kamar dagang sebuah kota kecil pernah mengundang seseorang untuk berbicara dalam jamuan makan tahunan mereka. Si pembicara untuk menyampaikan pidato yang menumbuhkan motivasi, karena ekonomi kota tersebut buruk tahun itu dan orang-orang merasa kecil hati.

Saat menyampaikan presentasinya, si pembicara mengambil selembar kertas putih besar dan membuat sebuah titik hitam doi tengah-tengahnya dengan sebuah spidol, lalu ia mengangkat kertas itu dihadapan hadirin dan bertanya, “apa yang anda sekalian lihat?” seseorang menjawab, “saya melihat satu titik hitam”. Si pembicara berkata “apalagi yang anda lihat?”.

Yang lain sependapat, “satu titik hitam”. Si pembicara bertanya, “tidakkah anda melihat selain titik ini?”. Hadirin dengan kompak merespon “tidak”.

“tetapi anda telah melewatkan hal terpenting” lanjut si pembicara. “anda luput melihat selembar kertas” lalu ia menjelaskan, “dalam kehidupan kita, kita sering terpaku pada kegagalan-kegagalan kecil yang seperti titik ini.itu semua membuat kita tidak melihat berbagai berkat, keberhasilan dan sukacita yang jauh lebih penting dari pada kekecewaan-kekecewaan yang berusaha memonopoli tenaga dan perhatian kita. Saya mendorong anda untuk memusatkan perhatian pada gambaran besar akan apa yang benar dan bukannya pandangan kecil akan apa yang salah”.

Apakah hari ini anda begitu terpaku pada apa yang sedang terjadi, sehingga anda kehilangan pandangan akan apa yang akan dapat terjadi? Mundurlah dan lihatlah gambaran yang lebih besar!

 Iman adalah adalah dasar dari segala sesuatuyang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1).

 Sumber: Buku Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Pemimpin

Setiap pekerjaan adalah gambaran diri pribadi yang melakukannya. Catatlah prestasi anda dengan gemilang.


Lama berselang, sekelompok pengamen hidup dinegeri yang jauh. Mereka berkelana dari satu kota ke kota yang lain, memyanyi dan memainkan music dengan harapan untuk memperoleh nafkah. Namun demikian, secara finansial mereka kurang berhasil. 

Zaman itu sangat sulit dan orang-orang awam tidak memiliki uang untuk dipakai menonton konser, sekalipun bayarannya sangat rendah. Kelompok itu berkumpul pada suatu malam untuk membicarakan kondisi mereka yang menyedihkan. “aku lihat agaknya malam ini kita tidak perlu tampil”. Kata yang seorang “ diluar salju sedang turun dan tidak seorangpun akan pergi keluar rumah pada malam sedingin ini”. Yang lainnya berkata, “aku setuju, kemarin malam penontonnya sangat sedikit, agaknya malam ini akan lebih sedikit lagi”. 

Pemimpin rombongan menanggapi, “aku tahu kalian semua patah semangat, aku juga begitu, tetapi kita punya tanggung jawab untuk mereka yang mungkin akan datang. Kita tetap manggung, dan kita akan memberikan yang terbaik yang kita mampu. Bukan kesalahan mereka bahwa orang-orang lain tidak mau menonton. Mereka tidak boleh dihukum dengan penampilan kita yang kurang baik”. 

Setelah dikuatkan oleh perkataan itu, para pengamen itu menyuguhkan pertunjukan yang terbaik. Setelah pementasan selesai, si pemimpin memanggil anak buahnya lagi. Ditangannya ada sebuah catatan kecil yang diserahkan kepadanya oleh salah seorang penonton sebelum pintu ditutup. Dan dengan perlahan-lahan pria itu membaca, “ terimakasih atas pementasan yang begitu indah”. Catatan itu ditandatangani, “Rajamu”.

“Maka Daniel ini melebihi Para Pejabat Tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai Roh yang luar biasa”. (Daniel 6:3). 

Sumber: Buku Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Pelajar

Wednesday, July 18, 2012

Jangan, Jangan, Jangan Pernah… Menyerah…

Pada tahun 1880-an, beberapa insinyur terbaik didunia dihubungi untuk memberikan pendapat mereka tentang kemungkinan membangun rel KA melalui pegunungan Andes. Satu demi satu, kelompok-kelompok insinyur diberi presentasi beragam rute yang mungkin. Satu demi satu mereka melaporkan bahwa pekerjaan itu tidak dapat dilakukan. Akhirnya, sebagai upaya terakhir, seorang insiyur Polandia bernama Ernest Malinowski ditawari. 

Malinowski memiliki reputasi yang sangat besar, namun pada tahun itu, ia sudah berusia enapuluh tahun. 

Malinowski tidak hanya meyakinkan perwakilan Negara-negara yang berpartisipasi, bahwa pekerjaan itu dapat dilakukan, namun juga bahwa ia adalah orang yang tepat untuk melakukannya. Dan demikianlah, pada awal dekade ke tujuhnya, ia mulai mengawasi pembangunan jalan raya tertinggi didunia itu. 

Rel KA itu dibangun melewati andes, melewati enampuluh dua terowongan, dan menyebarangi tigapuluh jembatan. Salah satu terowongan panjangnya 4.000 kaki dan terletak 15.000 kaki diatas permukaan laut.

Beberapa revolusi menangguhkan pembangunan itu dua kali. Dan sekali, Malinowski harus melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya ke Peru. Kendati terdapat banyak rintangan, pembangunan itu akhirnya selesai dan dianggap sebagai salah satu keajaiban besar rekayasa teknik dunia. 

Rintangan dimaksudkan untuk diatasi. 

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah dating waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia 6:9).  

Sumber: Buku Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Pemimpin

Tidak tergoyahkan

Pada tanggal 28 juli 1976, terjadi gempa bumi terburuk di abad ke dua puluh, dari sisi jumlah korban jiwa 240.000 penduduk meninggal dunia di Tangshan, Cina. Sebagian besar penduduk desa tinggal dirumah-rumah dengan kontruksi bangunan yang buruk dan fondasi yang lemah. Sama halnya dengan gempa bumi besar di Gansu, Cina, yang tercatat 8,6 skala ricther dan merenggut 200.000 jiwa pada tanggal 16 desember 1920. Polanya sama dimanapun diseluruh dunia. entah itu di Peru, Amerika Tengah, atau Turki bagian selatan, jika kualitas bangunannya buruk, maka kehancurannya lebih parah. Bangunan-bangunan lemah tidak akan bertahan terhadap gempa bumi.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan Rohani kita sendiri. Beberapa orang memang baik-baik saja ketika kehidupan berjalan baik. Mereka tampak bertahan hidup dalam masa-masa kehidupan yang baik, namun ketika badai kesulitan datang menerpa mereka hancur, kenapa? Pengalaman rohani mereka dibangun diatas fondasi yang lemah, goyah, pada kemampuan manusiawi mereka sendiri. Selama masalah mereka tidak lebih besar dari kemampuan mereka untuk mengatasinya, maka mereka baik-baik saja, namun ketika masalah mereka semakin besar lebih dari kekuatan dalam dirinya, mereka ambruk. Tanpa fondasi yang tidak tergoahkan mereka tidak bisa bertahan atas goncangan kehidupan ang besar.

Allah menyediakan fondasi yang tidak tergoyahkan dalam sabda-Nya. Saat kita merenungkan kebenaran-kebenaran Kitab Suci, kita bertumbuh menjadi orang-orang Kristen yang matang. Firman Allah memberikan kekuatan dan kestabilan pada iman kita, Firman itu Menyanggupkan kita berdiri teguh ketika badai kehidupan itu begitu dasyatnya, Firman itu menopang kita ketika segala sesuatu disekeliling kita ambruk, Ellen White mengatakannya seperti ini: “tubuh kita terdiri dari apa yang kita makan dan minum; maka sebagaiman perkara jasmani demikian pulalah dalam perkara rohani; yakni apa yang kita pikirkan itulah yang memberi dan kekuatan rohani kita”.

 Isilah pikiran anda dengan Firman Tuhan. Buka hati anda pada pengaruh Roh-Nya melalui Firman, jika anda melalukannya, maka anda akan membangun satu keyakinan teguh, tidak tergoyahkan yang akan bertahan dari ujian badai manapun.  

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu, kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angina melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan diatas batu”. (Matius 7:24,25)

 Sumber: Buku renungan harian Tidak Tergoyahkan (Mark Finley)

Friday, December 30, 2011

Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya.

Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru. Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.” Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit.

Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis. Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya.

Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah. Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya. Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.
 
Sumber : http://renungan-harian.com

Wednesday, December 21, 2011

Dua Bayi dalam Palungan

Bayi Yesus - Cerita Natal Di tahun 1994, 2 orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara, kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan di sebuah tempat yatim piatu yang besar. Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. 

Beginilah kisah dalam kata-kata mereka: Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita – untuk pertama kalinya – mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Yusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi ke sebuah kandang binatang, di mana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan. 

Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa di antaranya bahkan duduk di ujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai cerita, semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka di kota ini. Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan itu jerami kuning di palungan. 

Potongan kecil kain flanel digunting dari gaun malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia – dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika. Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba di meja si kecil Misha (seorang anak laki-laki). 

Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya. Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi di dalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi. Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius. 

Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya – sampai pada bagian kisah di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian: "Sewaktu Maria menaruh bayi itu di palungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. 

Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang Majus dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. 

Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah." "Jadi aku bertanya pada Yesus, ‘Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?’ Dan Yesus menjawab, ‘Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.’ 

Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya – untuk selamanya." Saat si kecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ditutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja and seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu. Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat jahat padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya – untuk selamanya. 

sumber: http://www.unitedfool.com/2003/12/08/dua-bayi-dalam-palungan-cerita-natal/

Sepatu Berwarna Emas

Empat hari sebelum hari natal, suasana Natal belum terasa dalam hati saya. Mobil-mobil sudah menjejali pertokoan yang sudah mulai memberikan potongan harga. Di dalam toko malah lebih parah, kereta barang dan pembeli antri pada kasir. Saya heran kenapa saya mau datang hari ini. Kaki saya sudah pegal, dan begitu pula kepala saya sudah pening. Dalam daftar belanjaan saya berisi nama-nama teman yang mengatakan bahwa mereka tidak perlu apa-apa. Tetapi saya pikir, mereka akan tersinggung jika saya tidak memberikan sesuatu kepada mereka. Mereka sudah mempunyai barang-barang yang mereka butuhkan, dan juga harganya mahal-mahal.

Saya memutuskan membelikan hadiah yang lucu kepada mereka. Secepatnya, saya mengisi kereta barang dengan barang-barang yang saya ingin beli, dan langsung ikut antri untuk membayar. Saya memilih antrian yang paling pendek, tetapi tetap saja membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai kasir. Di depan saya, ikut antri 2 anak kecil, yang laki-laki berumur sekitar 5 tahun, dan yang perempuan lebih kecil. Anak laki-laki tersebut memakai baju hangat yang lusuh, celana jeans yang kependekan, dan memakai sepatu kets kebesaran. Sedang adiknya, memakai baju yang sama dengan kakaknya.

Adiknya, membawa sepasang sepatu wanita berwarna emas yang bagus dan mengkilap. Lagu Natal terdengar di dalam toko tersebut, dan anak perempuan tersebut ikut menyanyikannya dengan perlahan-lahan dan gembira, walaupun dengan suara yang sumbang. Akhirnya kamipun sampai ke depan kasir. Anak perempuan tsb dengan hati-hati meletakkan sepatu tersebut di depan kasir, seperti menjaga harta karun. Kasir tersebut menghitung, dan berkata, "Harganya 25.000 rupiah".

Anak laki-laki tersebut mengeluarkan semua uang dari kantung celananya, meletakkannya di meja kasir dan menghitungnya, dan ternyata jumlahnya hanya ada 12.500 rupiah. Lalu kata anak laki-laki tersebut kepada adiknya, "Dik, kukira kita harus menaruhnya kembali…" dengan suara yang sedih. "Kita akan datang lagi kapan-kapan, mungkin besok". Mendengar hal tsb, adiknya tersedu, dan mengatakan, "Tetapi Yesus akan suka akan sepatu ini." Jawab kakaknya, "Ya… Kita pulang dulu, bekerja lagi…. Jangan menangis, kita akan kembali besok…" Lalu saya katakan kepada kasir bahwa kekurangan anak tersebut saya yang akan bayar. Anak itu sudah menunggu lama untuk mendapatkan sepatu tersebut, dan lagipula masa ini adalah masa Natal.

Tiba-tiba, sepasang tangan menyentuh tangan saya, dan anak perempuan itu mengatakan, "Terima kasih Bu…." Saya menanyakan kepada anak itu, "Kenapa kamu katakan bahwa Yesus akan suka kepada sepatu itu?" Kakaknya menjawab, "Ibu saya sedang sakit, dan akan pergi ke surga… Dan ayah saya mengatakan bahwa Ibu saya mungkin sebelum hari Natal sudah pergi, untuk bertemu Yesus."

Adik perempuannya berkata, "Guru sekolah Minggu saya mengatakan, di surga, jalannya terbuat dari emas, seperti sepatu itu. Bukankah ibu saya akan cantik sekali jalan di surga dengan sepatu yang sesuai?" Mata saya berkaca-kaca ketika saya melihat air mata anak perempuan itu mengalir di pipinya. "Ya…. Saya yakin ibumu akan cantik sekali…" Di dalam hati saya berterima kasih kepada Tuhan memakai anak tersebut dan mengingatkan saya untuk dapat "memberi dengan tulus hati".  

sumber: http://www.unitedfool.com/2003/12/06/sepatu-berwarna-emas-cerita-natal/

Tuesday, December 20, 2011

Natal yang Istimewa – Kisah Nyata

Pada tahun 1944, ibu dan saya termasuk enam puluh wanita yang ditawan Nazi di sebuah kandang kecil di Ludenburg, Jerman. Wanita yang lain adalah orang Yahudi dan hanya kami berdua yang Kristen. Meskipun begitu, karena hari Natal semakin dekat, ibu dan saya ingin mempersiapkan sesuatu untuk merayakannya.

"Kita akan membuat sebuah pohon Natal," tiba-tiba ibu berkata begitu pada hari Minggu Advent. Lalu ibu menguraikan rencananya, sebuah rencana yang harus dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Pada malam Natal, wanita-wanita yang lain mengamati dengan penuh perhatian waktu kami membuat sejumlah hiasan yang aneh dan mulai membuat sebuah pohon Natal. Mula-mula dikeluarkan sebatang kayu panjang yang saya temukan di kandang dan saya sembunyikan di bawah tempat tidur. Pada batang tersebut, kami mengikat ranting-ranting kecil pohon cemara, yang diambil dari tumpukan kayu bakar. 

Dan setelah susah payah memotong dan membentuk sebuah kaleng timah, kami memiliki sebuah bintang, seperti bintang yang bersinar di Betlehem. Untuk hiasannya kami memakai potongan kertas yang dibentuk melingkar lalu dihiasi dengan benang rajutan bekas yang berwarna. Setelah serangan udara berakhir, kami sering menemukan benang perak yang panjang di tanah. Benang itu sekarang membalut tipis pohon kami. Tetapi setelah semua itu diletakkan pada tempatnya di pohon, kami merasa masih ada yang kurang. "Lilin," kata ibu. "Seandainya kita mempunyai beberapa batang lilin." Dan saya langsung tahu dimana saya dapat mengambilnya – dari tiga lentera di kandang babi. Saya merayap kedalam "Vila Babi" (kami menyebutnya begitu karena tempat dan makanan di situ lebih baik dari yang kami peroleh) dan memotong sepotong kecil lilin dari setiap lentera. 

Sekarang pohon kami tampak hidup. Bayangan cahayanya menari-nari di mata semua wanita yang berkerumun mengelilingi pohon itu. Ibu mengeluarkan kitab Perjanjian Baru miliknya yang berharga dan membacakan keras-keras Kabar Baik itu. Lalu dengan suara pelan, kami mulai menyanyikan lagu-lagu Natal klasik, yang diakhiri dengan lagu "Stille Nacht, Heilige Nacht" (Malam Kudus, Sunyi Senyap). Tiba-tiba, pintu terayun terbuka dan Max Warger, sipir penjara melangkah masuk. "Apa ini?" tanyanya dengan kasar. "Malam ini malam Natal," kata ibu dengan pelan. 

"Kami merayakan malam yang kudus." "Kalian orang Yahudi?" tanyanya tidak percaya. "Anak perempuan saya dan saya adalah orang Kristen." "Tidak ada bedanya. Kalian berdarah Yahudi." "Begitu juga orang Kristen yang mula-mula," jawab ibu dengan tegas. "Kekristenan adalah masalah iman, bukan masalah bangsa." Dengan penuh kemarahan, Wagner menarik pohon kami, memporak-porandakannya dan melemparkan potongannya ke sudut ruang. 

Ia menghentakkan kakinya mematikan cahaya lilin. Dalam kegelapan, saya mengulurkan tangan saya menggenggam tangan ibu yang meraba-raba dari bangku tidurnya di bawah. "Kita sudah merayakan Natal," bisiknya. Malam itu kami tahu pasti bahwa hari Natal itu abadi. Tidak peduli bagaimana Natal itu dirayakan. Tetapi hari Natal yang istimewa itu tidak akan terlupakan, karena pohon yang unik hasil imajinasi kami. 
 
sumber: http://www.unitedfool.com/2003/12/05/natal-yang-istimewa-kisah-nyata/

Mengenang Natal Pertama di Negari Paman Sam

Apa yang ada di benakku saat itu di kala akan memasuki bulan Desember pertama kalinya di negeri Paman Sam yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani? Tentu merupakan sesuatu yang membuatku tak dapat menanti kira-kira bagaimana situasi dan kondisi (sikond) menjelang Natal. Bagaimana tidak? Dari Negara yang berasal dari mayoritas penduduknya adalah muslim, maka sudah sangatlah kental sekali mengenal suasana Hari Raya mereka setiap tahun, kemudian berpindah ke suatu Negara yang mayoritas berpenduduk Nasrani. 

Maka tak ayal lagi rasa keingin-tahuan pun tak dapat dibendung.Memasuki akhir bulan November 2002 saat itu, aku pun sudah menanti kira-kira bakal bagaimana suasana Natal nantinya di sana khususnya daerah di sekitar tempat tinggalku yang kebetulan saat itu apartemen di mana aku tinggal berlokasi tepat di depan jalan raya yang ditempati oleh rumah-rumah tinggal penduduk. Dimulai dari tetangga depan apartemen di mana aku tinggal, sudah mulai mendekorasi halaman rumahnya. Aku tersenyum saat membaca tulisan di depan halaman rumahnya yang bertuliskan “Happy Birthday Jesus” disertai dengan gemerlap lampu-lampu berwarna-warni yang terpajang di sekujur badan rumah. Tentu saja aku yang saat itu tinggal di apartemen hanya dapat memasang pohon Natal saja. Itu pun sudah cukup buatku apalagi sambil menggunakan ornament-ornament peninggalan almarhun Ibu suamiku. 

Meskipun aku tidak pernah mengenalnya, tetapi dari koleksi-koleksi ornament yang dimilikinya, aku dapat menilai betapa besar rasa seni yang dimilikinya. Ada yang lain, yaitu jenis pohon Natal itu sendiri, bukan imitasi seperti yang biasanya aku gunakan setiap tahun di Indonesia melainkan pohon asli. Dengan begitu aku belajar melalui suamiku, bagaimana memasang pohon tersebut agar dapat berdiri tegak. Baunya pun cukup wangi, dapat dirasakan baunya saat melintas di pohon itu.Mengetahui betapa besar keingintahuanku akan suasana Natal di sana, mengundang sang suami ingin membawaku berputar-putar ke sekeliling perumahan warga setempat. Mataku pun tak berkedip, sambil memuji tak habis-habisnya betapa indahnya rumah-rumah mereka dihiasi dengan berbagai macam dekorasi berthema Natal. 

Dia pun mengatakan itu tak seberapa. Suatu hari nanti dia akan menunjukkan tempat yang jauh lebih indah dari apa yang telah kulihat itu yang menurutnya dia merasa pasti bahwa aku akan terkagum-kagum melihat seni dekorasi mereka. Rasanya kurang pas kalau suasana Natal di negera Paman Sam itu tanpa salju. Ternyata tak lama berlangsung harapanku, di awal minggu bulan Desember tahun itu, salju turun cukup lebat sehingga aku pun tak melewatkan kesempatan untuk merasakan pertama kalinya bermain salju di depan apartemen. Suamiku pun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikannya dengan beberapa foto yang diambilnya. Seminggu kemudian datanglah undangan untuk menghadiri perayaan Natal di tempat di mana suamiku bekerja. Kembali aku pun sudah tak sabar untuk menghadirinya. 

Di saat hari itu tiba, kuutarakan rasa ‘excited’-ku kepada suamiku. Dia bertanya, “Why (mengapa)?” dan aku pun menjawab bahwa aku hanya ingin melihat apakah ada perbedaan dalam merayakan Natal di suatu perusahaan/tempat kerja antara di Indonesia dengan di USA. Kulihat para tamu telah memenuhi ruangan. Karena perayaan itu diadakan di sebuah restaurant, maka para undangan pun duduk berkelompok pada kursi-kursi yang telah tertata di meja-meja bundar. Acara pun dimulai dengan makan malam. Tak ada yang memimpin doa sebelum makan, maka aku pun berdoa sendiri di dalam hati. Acara berikutnya disambung dengan beberapa sambutan-sambutan pendek dan diteruskan dengan permainan. Aku tercengang!!! Rasa tercengangku pun bertambah lagi dengan berakhirnya permainan itu, maka berakhirlah acara perayaan Natal itu. Baru saja keluar ruangan, suamiku kuteror dengan begitu banyak kritikan. Hingga di dalam mobil pun hati kecil ku pun tak dapat tertahan hingga tertumpah semua kalimat yang muncul sebagai tanda tak sejalannya acara perayaan itu dengan biasanya yang aku alami di Indonesia. Suamiku pun tetap meladeniku karena aku yakin apa yang kuutarakan adalah tidak salah. 

Rasa prihatin yang dalam melihat secara langsung bagaimana mereka merayakan Natal tanpa ada sedikit ingat kepada siapa yang dituju dalam mereka merayakan Natal, hingga sampai doa makan pun tak ada yang memimpin? Tak ada doa syukur. Sampai sedangkal itukah makna Natal dalam kehidupan mereka? Aku pun tak segan-segan mengutarakan perasaan sedihku melihat hal itu kepada suamiku. Tak ada kesan Natal sama sekali sepulang dari sana. Hati gundahku pun terus bergalut. Apakah aku ditempatkan oleh-Nya di suatu tempat di mana orang-orangnya sudah teramat jauh berhubungan dengan-Nya?? Ah, ….kutepis rasa itu. Aku tak boleh menghakimi. Toh aku pun bukanlah orang sempurna juga. Aku hanya bisa berdoa di dalam hati agar Tuhan tidak menempatkan aku di tempat yang tidak benar sehingga membuatku pun menjadi jauh dari-Nya. Hati kecilku berkata, “Tidak!” dan kuaminkannya meski saat itu aku masih belum tahu apakah nantinya aku akan menemukan tempat yang aku rindukan sehingga kehidupan rohaniku pun tetap terjaga seperti saat aku berada di negeriku. Malam Natal pun tiba. 

Sepulang kebaktian di gereja, baru kurasakan suatu perbedaan yang mengingatkan aku di saat Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Sepi………lengang……..Kukatakan kepada suamiku bahwa situasi seperti itu sama halnya dengan keadaan saat Hari Idul Fitri tiba di Indonesia. Aku menanti detik-detik pukul 12 malam tiba. Rasa rindu nuansa Natal dalam hatiku tak dapat dielakkan, ingin seperti saat-saat Natal di Indonesia. Penuh renungan Natal dan hikmah Natal begitu terasa meski tak sesemarak indahnya dekorasi di Negeri Paman Sam ini, meski hanya berkidung ‘I am dreaming of a White Christmas’ karena memang di Indonesia tak akan pernah turun salju tetapi dekorasi-dekorasi Natal dan putihnya salju dapat aku rasakan bersama saudara seiman di sana, keluarga, teman-teman dan rekan-rekan sekerja seiman yang sama-sama memperingatinya. 
 
sumber: http://www.cross-written.com/cerita-natal-mengenang-natal-pertama-di-negara-paman-sam-49.html

Seorang Penolong Menjelang Natal

Dua hari menjelang Natal tahun yang lalu, Penulis memiliki pengalaman yang mengesankan. Saat itu ramalan cuaca, baik di televisi dan informasi cuaca online menyebutkan bahwa badai salju akan menerjang dengan suhu di bawah tiga puluh dua derajat Fahrenheit (beberapa derajat di bawah suhu es). Wal-Mart, tempat kerja Penulis sudah mulai tampak sepi menjelang pukul enam malam. Biasanya ratusan customer datang untuk berbelanja, namun malam itu suasana sudah sangat lengang. Rekan-rekan sekerja yang bertugas malam hari hingga dini hari sudah mulai menelepon untuk absen diri, sedangkan rekan-rekan lainnya sudah banyak yang meninggalkan pekerjaan menjelang pukul tujuh malam. Saat itu Penulis masih bertahan untuk tidak meninggalkan pekerjaan hingga pukul delapan lewat tiga puluh menit waktu Pennsylvania. 

Beberapa rekan ada yang bersedia tinggal di tempat kerja dan para Manager sudah bersiap sedia untuk tinggal hingga dini hari. Itulah salah satu resiko dan bentuk tanggung jawab para Manager mengingat tempat kerja Penulis tetap buka selama dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu walau badai salju menerjang sekalipun. Tanpa berpikir bahwa badai salju telah berselang lebih awal, Penulis mengenakan seluruh perlengkapan, dari scarf, kaos tangan dan jaket khusus musim dingin. Ternyata udara di luar sangat super dingin – di luar dugaan Penulis. Salju sudah turun cukup lebat walau permukaan jalan masih belum tertutup salju. Hanya berjalan sekitar tiga puluh meter dari pintu masuk menuju ke mobil, tangan Penulis sudah terasa dingin dan kaku. Sialnya, sewaktu Penulis berusaha membuka pintu mobil, ternyata tidak dapat dibuka. Penulis mencobanya berulang kali tetapi tetap tidak dapat dibuka padahal seingat Penulis, mobil tersebut biar pun keluaran sepuluh tahun yang lalu tidak bermasalah sedikit pun. Rasa khawatir mulai memuncak sewaktu Penulis melihat di sekitar halaman parkir Wal-Mart yang luasnya seperti lapangan sepak bola yang biasanya ratusan mobil terparkir di sana, saat itu hanya beberapa mobil yang terlihat dan dapat dihitung dengan sepuluh jari saja. Tidak tampak seorang pun lewat dan tak tampak sebuah mobil pun melintas. 

Akhirnya Penulis mencoba sekali lagi untuk keempat pintu – masih tetap tak ada satu pintu pun terbuka. Alamat! Mau tidak mau Penulis harus kembali ke dalam gedung untuk minta pertolongan tapi siapa yang mau menolong di malam hari dengan suhu sedingin itu? Penulis pun ragu-ragu untuk kembali ke gedung. Di satu sisi, tangan Penulis sudah mulai sakit menahan dingin walau sudah dimasukkan ke saku jaket. Tangan Penulis sudah tak dapat merasakan apa-apa selain menahan sakit karena dinginnya udara. Tiba-tiba Penulis mendengar suara ‘brak!’ sekitar tiga puluh meter dari lokasi di mana Penulis berdiri di samping mobil. Penulis ingin mengetahui siapa gerangan orang di sana dan bermaksud meminta pertolongan. Dengan langkah penuh harap dan berlari kecil, di balik beberapa deretan mobil truk, tampak dua orang ‘Pusher’ sedang mengumpulkan puluhan kereta belanja untuk ditarik secara otomatis. Dengan sedikit ragu-ragu, Penulis memberanikan diri meminta pertolongan. Ternyata permohonan Penulis disambut baik oleh seorang di antara mereka berdua. Ia pun mengikuti langkah Penulis ke mobil dan mulai beraksi. Hasilnya sama saja. Pintu mobil masih belum dapat dibuka meskipun posisi kunci sudah terbuka. Kepanikan mulai menyerang Penulis, sedangkan dinginnya kedua tangan sudah tak dapat dikendalikan lagi. 

Rasanya Penulis ingin langsung berlari ke dalam gedung. Melihat paniknya Penulis, ia pun berusaha sekali lagi dan menanyakan apakah mobil Penulis memiliki masalah seperti itu sebelumnya. Penulis pun menjawab bahwa mobil itu sehat walafiat. Saat itu Penulis sudah membayangkan alternative akhir - mau tidak mau harus tinggal di dalam gedung bila pintu mobil tak dapat dibuka. Penulis mulai memohon dalam doa di dalam hati dalam suasana panik, sambil melihat si pria penolong itu masih sibuk berusaha membuka pintu. Rasanya tidak enak bila membiarkannya melakukannya di cuaca yang begitu dinginnya. Saat Penulis bermaksud untuk mengatakan ‘berhenti saja’ tiba-tiba pintu sebelah kanan terbuka saat ia menariknya sekali lagi. Penulis rasanya ingin mengeluarkan air mata – hampir tidak percaya melihat adegan di depan mata. Ia tampak tersenyum sambil berkata bahwa pintu sudah terbuka dan mempersilahkan Penulis untuk masuk ke dalam mobil. 

Oleh karena masih terkesan, Penulis mengatakan agar ia tetap membuka pintu itu dan menghampirinya sambil mengucapkan terima kasih dan menyarankannya agar segera pulang karena cuaca yang sangat buruk dan tidak perlu mengkhawatirkan kereta-kereta belanjaan. Penulis katakan bahwa para Manager pun akan memakluminya. Ia pun berkata bahwa kereta-kereta itu adalah pekerjaannya yang terakhir malam itu dan setelah itu ia segera akan pulang. Tak lupa Penulis bertanya siapakah namanya dan ia menyebutkan namanya yang sangat sulit untuk diingat. Sebelum masuk ke dalam mobil, Penulis mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepadanya. Tanpa diduga ia berjalan mendekat dan memeluk Penulis dengan kedua belah tangannya sambil berkata, “Merry Christmas!” Penulis sangat terharu, rasanya ia mengetahui bagaimana perasaan Penulis yang sangat panik pada saat itu. Penulis bermaksud ingin memberikan sesuatu kepadanya sebagai tip sebagai ungkapan terima kasih tetapi batal mengingat saat itu Penulis tidak membawa uang ‘cash’. 

Dengan penuh yakin dan mantap Penulis mengatakan sebelum ia melangkah meninggalkan lokasi di mana Penulis berdiri, “You are my angel. God will bless you!” Ia pun tersenyum dan melambaikan tangan kanannya sambil berkata, “Thank you. Go home soon! Be careful in driving!” Di dalam mobil selama sekitar lima belas menit Penulis berdiam diri, duduk di kursi mobil hingga kondisi di dalam mobil tidak terlalu dingin sambil meninggikan ‘heater’ secara maksimum. Penulis berupaya mengingat rupa si Penolong tersebut, namun rasanya mustahil. Yang terlihat hanyalah raut mukanya saja yang tertutup topi musim dingin dan dikerudung dengan topi jaketnya. Penulis hanya mengingat si Penolong tersebut berperawakan tinggi dan berkulit hitam. Itu saja, namanya pun sangat susah untuk diingat. 

Selama di perjalanan, Penulis tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih akan adanya pertolongan di luar dugaan. Sementara sepanjang perjalanan sudah tampak sangat lengang dan hanpir ridak tampak satu pun mobil melintas. Penulis berpikir dalam hati mengapa tidak pulang lebih awal untuk menghindari situasi yang mencekam seperti itu. Setiba di rumah, Penulis sudah tidak sabar menceritakan kejadian itu kepada sang suami dengan mata agak berkaca-kaca. Penulis katakan kepadanya, “He is my angel” dan memberitahukannya kalau tidak ada pertolongan, mau tidak mau Penulis akan tinggal di gedung hingga keesokan harinya. Lalu Penulis bertanya mengapa pintu mobil tak dapat dibuka sama sekali. Suami Penulis menjawab itu disebabkan cuaca yang sangat dingin sehingga kebekuan memungkinan hal itu. Penulis tak membuang waktu, berjalan ke dapur dan mengecek alat pengukur suhu. Ternyata benar, suhu udara di luar: minus tujuh derajat Celcius! Malam itu Penulis menyertakannya di dalam doa. 

Penulis yakin meskipun berkat itu tak datang dari Penulis itu sendiri, berkat itu akan datang dari sumber lainnya. Dalam doa Penulis yakin bahwa siapa pun yang menolong sesama dengan ketulusan hati, maka si Penolong tersebut akan mendapatkan bagiannya. Melalui cerita di atas, kita dapat merenungkan sesuatu, apakah kita juga pernah memanjatkan doa kepada mereka yang membutuhkan pertolongan kita yang tak dapat kita jangkau? Atau hanyakah kita berdoa kepada sesama yang hanya pernah menolong kita saja? Yakinkah Anda bahwa doa dan iman adalah sebuah senjata yang mutakhir kita dalam berkomunikasi dengan sang Pencipta? Menjelang Natal ini, marilah kita semua mengingat sesuatu, di kala kita membelanjakan begitu banyak uang untuk makanan dan hadiah dalam merayakan Natal, di belahan bumi lainnya masih banyak mereka yang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Ulurkan tangan Anda! Bantuan dalam bentuk apa pun akan sangat membantu, termasuk doa-doa Anda. Selamat Natal. Kiranya damai Natal senantiasa menyertai kita selamanya. Amin. 
 
Sumber: http://www.cross-written.com/tag/christmas

Malam Saat Lonceng Berdentang

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Amsal 16:16 Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. 

Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya. Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. 

Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu. Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu. Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka. Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. 

Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri." "Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya." "Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembahNya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku." 

Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya. Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya. Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal. Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. 

"Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara. Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar. Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar. 

sumber : http://www.gsn-soeki.com/wouw

Thursday, December 15, 2011

Kisah Sepasang Sejoli Universal

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. (Efesus 5:31-32)


Kisah Sepasang Sejoli Universal. Ada sepasang sejoli yang sangat unik. Kedua pribadi itu, si pria dan si wanita, bisa dibilang tak pernah bertemu satu sama lain. Walaupun demikian, ada kasih di antara mereka.

Si pria begitu mengasihi si wanita hingga rela mati baginya. Ia ingin sekali menikahi kekasihnya itu. Akan tetapi, ia tak dapat melakukannya, karena ayahnya belum menghendakinya. Maka dalam masa-masa penantiannya ia senantiasa berdoa bagi kekasihnya agar kekasihnya itu berada dalam kondisi yang baik. Ia bekerja mempersiapkan tempat tinggal yang indah. Ia berjanji kepada kekasihnya itu bahwa suatu hari kelak ia akan menjemput dan menikahinya. Selain itu, ia juga meninggalkan surat cinta kepada kekasihnya dengan harapan kekasihnya itu tetap setia menantikannya. Ia juga senantiasa mengutus budak-budaknya untuk memberitahukan kepada kekasihnya itu bahwa ia tetap setia mengasihinya.

Di sisi lain, si wanita juga mengasihi si pria. Sekalipun demikian, banyak tantangan yang harus ia hadapi. Banyak sekali pria-pria hidung belang yang merayu dan menggodanya. Terkadang ia ragu akan janji kekasihnya. Akan tetapi, ia ingat bahwa kekasihnya sangatlah berintegritas. Karena itu, setiap kali ada pria lain yang menggodanya, dia menolaknya. Dia yakin bahwa kekasihnya benar-benar akan menjemput dan menikahinya.

Dalam masa-masa penantiannya si wanita tekun membaca surat cinta kekasihnya. Dari sana dia tahu betapa luar biasanya kekasihnya itu. Semakin dia membaca surat cinta itu, semakin besarlah kerinduannya akan kekasihnya. Karena itu, tak bosan-bosan ia membaca surat cinta itu demi kekasihnya.

Akhirnya, masa penantian itu berakhir. Ayah si pria telah mengizinkan putranya menjemput dan menikahi kekasihnya. Si pria pun segera berangkat menjemput kekasihnya. Kebahagiaan dan kegembiraan melingkupi kedua sejoli itu saat mereka bertemu. Segala duka derita dalam masa-masa penantian begitu saja lenyap tak berbekas. Dan keduanya pun akhirnya menikah menjadi sepasang mempelai universal yang agung. Mereka tinggal di kota kudus dan bahagia selama-lamanya.

Tahukah anda siapa sepasang sejoli universal itu? Ya, Kristus dan jemaat, itulah sepasang sejoli universal yang agung. Romantika di antara keduanya sangatlah indah.

Bagaimana relasi anda dengan pasangan anda? Apakah seindah romantika Kristus dan jemaat? Ingatlah, tujuan Allah menganugerahkan pernikahan adalah supaya pasangan suami isteri dapat mengekspresikan hubungan Kristus dengan jemaat (bd. Ef 5:31-32).

sumber : http://hartarohani.com

Sunday, August 7, 2011

Kisah Marie Louise

(by: Devina Jap)


 Di sebuah Gereja, seorang Pendeta sedang berkotbah. Setelah selesai kebaktian, seorang ibu yang tua renta menghampiri dan memandangnya dengan sorot mata yang memohon. "Anak saya ingin mengetik kotbah Bapak Pendeta yang sudah saya rekam tadi, dia sangat tertarik. Bolehkah, setiap anda berkotbah, saya membawa alat perekam ini ? Setiap hari Senin saya memperoleh rekaman dan hari Sabtu saya akan mengantar ketikan ini untuk dibagikan."
"Luar biasa, ini sangat membantu saya", Pak Pendeta terkejut.

Hal ini sudah berjalan selama satu tahun, sampai saat itu Pak Pendeta tidak mengetahui siapakah anak itu, setiap kali Pak Pendeta menelepon untuk berterima kasih, jawaban selalu sama, "Marie Louise tidak bisa mengangkat telepon, ada pesan ?"

Sampai suatu saat, akhirnya Pak Pendeta diundang untuk jamuan teh oleh Marie Louise "Silakan masuk", ibunya Marie Louise mempersilakan. Terdengar suara yang menderit, seorang gadis berjalan dengan langkah yang terseret-seret ia tidak memiliki kedua lengan, ia sangat manis dan berkata,

"Inilah saya Marie Louise. Beginilah keadaan saya sejak lahir. Pada awalnya saya membenci keadaan saya dan setiap saat saya merasakan kejang-kejang di seluruh tubuh saya.

Saya tidak bisa menjalani kehidupan layaknya remaja yang lain. Saya kesakitan, hanya di tempat tidur, saya marah, saya kecewa, saya mulai gusar .... Saya berteriak .... Saya memaki-maki dan berkata dengan kasar.

Saya mulai menangis. Saya menangis histeris, bahkan saya mengutuki hari kelahiran saya. Saat itu ibu memeluk saya, setelah saya lihat wajahnya, ia menangis dan ia bernyanyi, 'Karena Tuhan ada, saya pun ada, karena Tuhan ada hari depan saya pun ada'.

Ada sentuhan saat itu dan saya mulai bersyukur dengan keadaan saya, karena TUHAN ITU HIDUP.

Betapa sakitnya kaki saya untuk mengetik namun saya lakukan ini untuk TUHAN."


sumber : http://www.sumbercerita.com

Friday, July 22, 2011

Ahli Batu

Cerita tukang batu, Hiduplah seorang ahli batu yang sangat terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri. Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.

Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu. Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat, dan bersedia menjalani ujian.

"Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit," ucap sang ahli membuka pembicaraan. "Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka kamu harus mengulang ujian itu besok." Anak muda itu mendengarkan dengan seksama. Ia mengangguk pelan, "Baiklah, itu pekerjaan mudah."

Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.Disodorkannya ke arah muka si anak muda. "Ayo, ambil". Hap. Tampak kedua tangan yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. "Kamu belum berhasil anak muda. Cobalah besok." Sang pemuda tampak kecewa.

Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi, dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti dan tak mau menjadi ahli permata.

Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli bertanya, "Kamu sudah siap?" Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, "Hei, tunggu dulu. Itu bukan batu yang biasa kita gunakan!" Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari sang ahli batu. "Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!"

***

Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan, acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan.

Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi pemenang? Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup. Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.

sumber : http://www.resensi.net

Thursday, July 21, 2011

Cara Mengunci Folder Tanpa Software


Pada kesempatan kali ini saya ingin bagi-bagi informasi Bagaimana cara untuk mengunci folder tanpa sofware. Untuk mengunci folder dengan Software mungkin sudah biasa sobat lakukan. Akan tetapi kalau tanpa software Apakah kita bisa menyembunyikan suatu folder rahasia kita dari orang lain? Jawabannya tentu saja bisa.
Mungkin ada sobat-sobat blogger yang sudah mengetahui cara yang ingin saya informasikan ini. Akan tetapi, saya tetap akan membagi informasi ini untuk sobat blogger yang masih belum mengetahuinya. Tujuan saya tidak lain dan tidak bukan supaya seluruh masyarakat di Indonesia tahu cara ini dan bisa mempraktekkannya sendiri.
untuk mengunci folder tanpa sofware ini sangatlah mudah, caranya adalah sebagai berikut :

1. Buatlah sebuah notepad kosong atau new text document.txt di directory mana saja di computer atau laptop anda. Anda boleh memberi nama apa saja untuk new text document tersebut.

2. Setelah itu anda tinggal meng-copy script yang telah saya sediakan di bawah ini :

cls
@ECHO OFF
title Folder Locker
if EXIST "Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}" goto UNLOCK
if NOT EXIST Locker goto MDLOCKER
:CONFIRM
echo Are you sure you want to Lock the folder(Y/N)
set/p "cho=>"
if %cho%==Y goto LOCK
if %cho%==y goto LOCK
if %cho%==n goto END
if %cho%==N goto END
echo Invalid choice.
goto CONFIRM
:LOCK
ren Locker "Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}"
attrib +h +s "Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}"
echo Folder locked
goto End
:UNLOCK
echo Enter password to Unlock folder
set/p "pass=>"
if NOT %pass%==type your password here goto FAIL
attrib -h -s "Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}"
ren "Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}" Locker
echo Folder Unlocked successfully
goto End
:FAIL
echo Invalid password
goto end
:MDLOCKER
md Locker
echo Locker created successfully
goto End
:End


3. Setelah anda selesai meng-copy, buka kembali notepad yang telah anda buat tadi dan Paste script ini di dalamnya.

4. buka notepad tadi dan ganti kata type your password here dengan password untuk membuka folder pada nantinya dan setelah selesai simpan script-nya dan ubah ekstensi file yang telah terdapat script tersebut dari ekstensi file ***.txt menjadi ***.bat

5. Double klik pada file tersebut dan beberapa detik kemudian akan muncul sebuah folder yang bernama Locker .

6. Simpanlah file-file anda yang ingin anda kunci di dalam folder yang bernama locker tersebut. Di dalam folder tersebut bisa kita letakkan file apa saja yang kita inginkan dengan ekstensi file yang berbeda. Baik itu file gambar, music, video, document, dan file-file lainnya.

7. Setelah semua file yang diinginkan tersimpan. Double klik pada script di notepad yang telah anda buat menjadi ***.bat . Lalu akan muncul tulisan Are you sure you want to Lock the folder(Y/N). Ketik “y” dan tekan enter untuk yes dan ketik “n” lalu tekan enter untuk no. Sekedar informasi tulisan are you sure want to lock the folder? yang ada pada script awal (default) bisa kita ubah sesuai keinginan kita. Seperti : apakah saudara yakin ingin mengunci folder ini? dan sebagainya.

8. Jika yang anda simpan adalah file penting, usahakan file yang anda simpan ini jangan sampai didelete oleh orang lain. Anda bisa mengantisipasinya dengan mengaktifkan fasilitas hidden file dan tidak menampakkan file-file yang ter-hidden sehingga orang lain tidak bisa menghapus file anda.

9. Selamat Mencoba!

Monday, July 11, 2011

Cara Membuat Tulisan Berjalan (Marquee)

Sering kali kita melihat blog yang dihiasi oleh tulisan atau kata-kata yang berjalan di blog teman-teman kita. mungkin sebagian besar sudah mengetahuinya. tapi disini saya mencoba untuk sharing kepada teman-teman yang belum mengetahui cara pembuatannya.

yang akan saya bahas ini merupakan tulisan berjalan biasa bukan tulisan berjalan yang apabila ada mouse di area tulisan itu akan berhenti.

berikut cara pembuatannya :
  1. Login ke Blogger
  2. Kemudian klik Tata Letak dan Elemen Halaman
  3. Ketika sudah berada di Elemen Halaman klik Tambah Gadget
  4. Lalu pilih HTML/JavaScript
  5. Langkah selanjutnya masukkan kode marquee yang anda inginkan seperti contoh dibawah ini :

1. Teks berjalan dari kanan ke kiri
kode :

hasil :

Contoh Tulisan Berjalan

2. Teks berjalan dari kiri ke kanan
kode :

hasil :

Contoh Tulisan Berjalan

3. Teks berjalan bolak balik
kode :

hasil :

Contoh Tulisan Berjalan

4. Teks berjalan dari atas ke bawah
kode :

hasil :

Contoh Tulisan Berjalan

5. Teks berjalan dari bawah ke atas
kode :

hasil :
Contoh Tulisan Berjalan


6. Teks berjalan mondar-mandir
kode :

hasil :

Contoh Tulisan Berjalan


Saturday, July 9, 2011

Cara Membuat Textarea

Textarea diperlukan dalam pembuatan blog atau website saat membuat text atau tulisan di dalam box. Hasil penulisan text di dalam Textarea tersebut akan ditulis tanpa merubah ukuran dari texarea itu sendiri (sebelumnya char width (cols) dan rows didefinisikan terlebih dahulu). Apabila text yang ditulis melebihi kapasitas ukuran textarea, maka textarea tersebut akan otomatis membuat scrollbar di sebelah kanan.

Dalam text area, penulisan kode HTML, CSS, atau script lain dapat ditulis tanpa perlu menggunakan entitas HTML atau dengan kata lain seluruh text, kode, dan script yang ditulis pada textarea akan tampil apa adanya setelah diposting.

Para blogger biasanya menggunakan textarea sebagai tempat untuk menyimpan kode HTML, CSS, atau script yang lain misalnya url download, script tukar link, script banner exchange, dan lain-lain. Berikut ini akan saya jelaskan cara membuat textarea pada blog jika suatu saat dibutuhkan untuk menempatkan atau menyimpan kode HTML. Cols berfungsi untuk mendefinisikan jumlah karakter ke samping yang akan ditampilkan pada textarea, Rows berfungsi untuk mendefinisikan jumlah baris pada textarea.

Contoh 1 : Penulisan text di dalam textarea dengan ukuran char width 30 dan jumlah baris 4 :

Penulisan kode HTML :

Tampilan setelah diposting :


Contoh 2 : Penulisan text di dalam textarea dengan ukuran char width 30 dan jumlah baris 4 tetapi tulisan melebihi kapasitas textarea:

Penulisan kode HTML :

Tampilan setelah diposting :



Contoh 3 : Penulisan text di dalam textarea dengan ukuran char width 30 dan jumlah baris 4 dengan status readonly sehingga text yag berada di dalam textarea tidak bisa diedit setelah diposting.

Penulisan kode HTML :

Tampilan setelah diposting :



Contoh 4 : Penulisan kode html di dalam textarea dengan ukuran char width 30 dan jumlah baris 4 dengan status text readonly untuk mencegah pengeditan setelah diposting:

Penulisan kode HTML :

Tampilan setelah diposting :



Kode HTML pada contoh 4, jika tidak menggunakan textarea dapat juga ditulis dengan menggunakan entitas HTML seperti di bawah:

Penulisan kode HTML :
<a target="_blank" href=" http://linksukses.com"> <img border="0" alt=" Link Sukses" src=" http://i278.photobucket.com/albums/kk82/yudispa/LinkSukses.jpg" title=" Link Sukses"/></a>

Tampilan setelah diposting :
Link Sukses

Pada contoh 1 dan contoh 2, tulisan di dalam textarea masih bisa diedit, tetapi pada contoh berikutnya, tulisan di dalam textarea tidak bisa diedit (readonly).

Mohon koreksi teman-teman jika saya salah memberikan informasi mengenai textarea di atas. Semoga bermanfaat.

sumber : http://www.linksukses.com/2010/01/cara-membuat-textarea.html