Thursday, April 22, 2010

Johannes Calvin (Konflik yang membawa Harapan)

Mengubah sebuah kesalahan memang bukan perkara mudah, apalagi kesalahan itu berhubungan dengan doktrin gereja yang merupakan wadah umat nasrani dalam menggantungkan seluruh aktivitas relegiusnya.
Dalam keutuhan gereja, fungsi doktrin itu sendiri selalu menjadi sebuah gambaran dan citra diri yang harus dijaga sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Allah. Namun pedoman yang ditetapkan Allah itu didekati dengan cara tafsir yang salah, nilai hiduppun akan mengalami distorsi, dan tidak gambang untuk merubahnya.
Tragedi semacam ini sempat melanda gereja pada abad ke-16, yaitu akibat pendekatan interpretasi yang saling kontradiktif. Pada waktu itu muncul pertentangan antara Yohanes Calvin dengan kepuasan gereja menyangkut berbagai doktrin di antaranya tentang predestinasi, perjamuan kudus, sistem pemerintahan, dan beberapa dotrin penting lainnya.
Pertentangan itu kemudian melahirkan perpecahan yang merongrong citra diri gereja sebagai tubuh Kristus. Namun disisi lain pertentangan itu juga melahirkan berbagai organisasi baru, yang diatur secara terpisah, tetapi tetap mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.
Meskipun ratusan tahun telah berlalu, tidak sedikit dari denominasi gereja yang kemudian bermunculan mengagumi ajaran Calvin. Bahkan, Calvin telah memberi pengaruh besar bagi gereja dan sistem pemerintahan yang hampir merambah ke seluruh dunia. Dengan demikian, ketegaran dan semangat juangnya itu tetap hidup didalam hati ribuan umat manusia.
Bila ditelusuri, karisma Calvin itu telah muncul dalam kehidupannya sejak ia masih kecil, walaupun ia hanya seorang anak desa yang tinggal disebalah utara kota paris, Prancis, karisma yang dikaruniakan kepadanya itu sudah nampak.
Niatnya yang tinggi untuk belajar telah membuat anak dari pasangan Gerard Calvin dan Jeanne Lefranc itu semakin terampil walaupun usianya baru duabelas tahun. Apalagi ia ditunjang dengan pendidikan elementer yang ditempuhnya diistana bangsawan Noyon,Manor,-karena ayahnya memiliki hubungan erat dengan keluarga bangsawan. Tak mengherankan jika anak kelahiran 10 juli 1509 selalu memperlihatkan nilai-nilai kebangsawanan yang mempengaruhi strata sosialnya.hal itu selalu membuatnya berada pada posisi terpandang sehingga ia dengan mudah mendapat pekerjaan dan memiliki penghasilan walaupun usianya masih terhitung remaja. Bahkan dengan penghasilannya itu Calvin mampu membiayai kuliahnya di collage de la marche, Paris.di skolah itulah dia belajar retorika dan bahasa latin dari seorang ahli bernama Marthurin Cordier. Dan setelah itu ia pindah ke collage de Montague untuk belajar filsafat dan teologi bersama-sama dengan temannya Ignatius dari loyola, yang kemudian menjadi musuh besar dalam gerakan reformasi.
Namun keputusan Calvin untuk blajar teologimenimbulkan prasangka di hati ayahnya yang tidak menginginkan Calvin menjadi seorang imam. Oleh sebab itu ayahnya kemudian memindahkannya ke Universitas Orleans untuk belajar ilmu hukum.
Di Universitas tersebut, selain belajar ilmu hukum, Calvin juga ternyata mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani. Dewngan demikian, ia bukan hanya mengetahui 9ilmu Hukum tetapi juga filsafat Yunani dan Yahudi, yang memberi peluang baginya untuk masuk kedalam dunia teologi Alkitab sebagai sumber literatur dari kdua bahasa itu.
Rupanya, cara seperti itu telah dirancang oleh sang Khalik untuk mempersiapkan Calvin menjadi seorang reformator gereja sekaligus berperan dalam sistem tatanegara sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya, oleh sebab itu, tak mengherankan bila Calvin kemudian menjadi seorang yang sangat fanatik dalam pembaruan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya karena ia menekankan ketertiban dan keteraturan gereja menurut perspektif ilmu hukum. Bahkan dalam beberapa ajaran yang ditulisnya, ia banyak membicarakan doktrin gereja yang diungkapkannya secara logis untuk menentang penyesatan yang melanda gereja pada masa itu. Selain buku Religionis Christianae Intitutio yang terkenal sebagai buku dogmatika dalam gereja-gereja Calvinis, ia juga menulis salah satu buku teologi yang berjudul Psychopanychia. Buku8 itu ditulis untuk menentang ajaran Anababtis yang mengajarkan bahwa sesungguhnya jiwa manusia itu tidur sampai Kristus datang kembali.
Selain melahirkan banyak karya dibidang literatur, Calvin juga aktif melakukan demonstrasi dalam berbagai forum dan pertemuan akbar untuk menyuarakan gagasan reformasinya. Ia juga banyak memberi protes terhadap sistem pemerintahan Paus dalam gereja maupun negara. Bahkan istilah “kristen protestan” yang sempat menjadi label para pengikut Marthin Luther, pada saat itu semakin menguak karena dipicu oleh aksi unjuk rasa yang dilakukan pengikut Calvin, hasilnya terbentuklah sebuah organisasi yang disebut Gereja Protestan dan dikenal hingga sekarang.
Dalam perkembangannya, gereja itu melebur dan membentuk berbagai denominasi baru meskipun tetap mewarisi ajaran Yohanes Calvin. Peleburan itu erat hubungannya dengan perubahan tata ibadah dengan asesoris gereja yang banyak disesuaikan dengan budaya lokal.
Meskipun Calvin menghadapi banyak penganiayaan, ia tetap merindukan sebuah negara teokrasi. Hal itu terbukti ketika ia dalam perjalanan pulang ke Basel pada tahun 1536 dan menginap di Jenewa. Pada malam itu juga ia diminta oleh seorang rekannya, William Farel, untuk menata kota jenewa menjadi kota refomasi. Namun, permintaan Farel ditolaknya karena ia beralasan hanya ingin menulis karya-karya teologi yang dirasanya penting bagi kehidupan gereja selanjutnya. Namun Farel berkata kepadanya, demi nama Allah yang Maha Kuasa, aku berkata kepadamu, jika engkau tidak mau menyerahkan dirimu pada pekerjaan Tuhan, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri dari pada kemuliaan Kristus.
Perkataan itu rupanya mengingatkan Calvin pada panggilan Allah bagi dirinya. Ia menyadari bahwa Allah telah memanggilnya untuk melakukan suatu pekerjaan besar yang akan mempengaruhi tata gereja dan sistem pemerintahan dunia selanjutnya.
Selang dua bulan kemudian, dewan kota Jenewa memutuskan untuk menganut paham reformasi yang dicetuskan oleh Calvin. Itu merupakan tanda dimulainya penataan sistem pemerintahan kota dan doktrin gereja sesuai dengan cita-cita kedua reformator itu. Pengaturan itu dimulai dari doktrin dan pelaksanaan perjamuan yang harus dijalankan sebulan sekali. Setelah itu. Dibuatlah sebuah syariat yang menyatakan bahwa setiap penduduk jenewa diwajibkan untuk menandatangani sehelai surat pengakuan tentang iman dan keyakinannya.
Namun, ketika diputuskan itu didengar, sejumlah warga kota langsung mengadakan demonstrasi dan mengungkap ketidak setujuan mereka. Dwan kota dikecam dan dipaksa untuk menolak pengakuan itu, lalu menyingkirkan kedua tokoh yang bermaksud untuk mereformasi koata Jenewa.
Walaupun perjuangan kedua tokoh itu gagal, bagai pucuk dicinta ulam tiba, Calvin langsung dipanggil oleh jemaat Strasburg untuk menjadi pendeta disana. Ia diminta untuk menerapkan program reformasi Jenewa yang smpat gagal itu.,
Pada mulanya ia membenahi dan menetapkan keteraturan gereja dengan maksud agar tercipta keselarasan antara gereja dan peraturan hukum negara. Adapun doktrin teologi Alkitab, doktrin itu sebagian besar diajarkannya melalui nyanyian mazmur yang diciptakannya bersama dengan beberapa ahli musik, seperti Clement Marot, Louis Bourgois, dan Maitre Pierre.
Dalam kesibukan nya yang cukup padat ia sempat menjalin asmara dan menikah dengan seorang janda keturunan bangsawan Idelette De Bure. Namun kebahagiaan cinta mereka hanya berlangsung selama sembilan bulan karena Idelette de Bure meninggal dikala Calvin sedang minikmati bulan madu bersamanya. Meskipun demikian kepergian istri tercinta itu tidak membuatnya larut dalam kesedihan. Bahkan, ia tetap antusias untuk mewujudkan cita-cita reformasinya.
Beberapa waktu kemudian banyak perkembangan yang terjadi dan pengaruh teologi Calvin pun semakin meluas. Melihat perubahan itu. Pada tahun1541 ia mendapat panggilan dari jemaat jenewa yang dahulu pernah mengusirnya. Rupanya, jemaat itu menilai bahwa tata gereja semakin maju karna terbuka terhadap reformasi Calvin.
Setelah tiba dijemaat Jenewa, Calvin menyusun sebuah tata gerja baru yang disebut Ordonnances Ecclesiastiques (Undang-undang Gerejawi). Undang-undang itu mengungkap beberapa jabatan penting dalam gereja diantaranya Gembala, pengajar, penatua, dan diaken. Dalam struktur organisasi gembala dan pengajar merupakan kelompok gembala sesuai dengan ungkapan yang tersirat dalam perjanjian baru, sedangkan penatua bertanggung jawab hal disiplin gereja.
Selain itu, ia juga mengajarkan pembenaran hanya oleh iman seperti yang diajarkan olh Marthin Luther. Itu bukan berarti bahwa keselamatan dijalankan tanpa hidup suci, seperti yang terjadi pada masa reformasi Calvin. Teolog injil itu sangat menekankan kesucian sebagai ucapan syukur karena telah diselamatkan oleh Allah. Itulah sebabnya, Calvin menegaskan bahwa disiplin gereja harus diuawasi dengan ketat dan berlaku bagi siapa saja. Dalam pengawasan itupula, Calvin meminta andil pemerintah kota untuk membuat syariat demi menggapai negara teokrasi (Negara yang menhormati Allah).
Dengan pengaturan itu, hubungan politik antara pemerintah dengan gereja semakin erat. Gereja pun sangat mendukung program pemerintah dalam membangun kota Jenewa. Bahkan, ide-ide sang reformator itu terus mengalir dam memberi pengaruh bagi kota Jenewa.
Untuk meneruskan keteraturan semacam it6u, Clvin kemudian mendirikan akademi gimnaium dan teologi untuk mempersiapkan sebanyak mungkin generasi Calvinis yang akan menjadi pemimpin gereja Calvinis. Ia mengangkat Theodorus Beza menjadi direktur akademi tersebut, sekaligus calon yang akan menggantikan posisinya. Dalam perkembangannya, tak sedikit teolog dan lulusan dengan predikat jempolan yang dihasilkan oleh akademi itu, salah satunya John Knox dan Caspar Olevianus pengarang Katekismus Heidelberg.
Selama hidupnya, banyak karya yang telah disumbangkan oleh Calvin. Pola pikir dan sistem yang dicetuskannya itu teradopsi dalam berbagai model kepemimpinan di dunia. Namun, tak sedikit pukulan keras yang menhujam perasaan Calvin dan memaksanya untuk berhenti. Tekanan itulah yang turut memperparah penyakit TBC yang dihadapinya. Meskipun dmikian, pada masa yang cukup kritis ia masih banyak menyampaikan pesan kepada jemaat jenewa dan Theodorus, rekan sepelayanannya.
Meskipuin Calvin sudah lama meninggal, yaitu pada tanggal 27 mei 1564, semua karyanya masih tetap hidup dalam hati banyak orang.
Sumber :
1. F.D Wallen, Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003.
2. HTTP://www.alisaintsjakarta.org

No comments:

Post a Comment